Senin, 04 Agustus 2014

Antri sedekah santunan

Antrian panjang
Desak-desakan di pintu gerbang
Lima ribu orang lebih menunggu sedekah

Tangan terpanggil
Sungguh buatku gerimis
Hanya untuk makan sehari

Budi di antrian panjang
Jatuh di tengah desakan
Mati terinjak oleh massa yang lapar

Tak ada antrian
Santunan datang

Aku dan pohon

Pohon itu berikan aku ketenangan
Aku datang saat panas menyengat
Pohon itu berikan aku kesejukan
Aku tak menjaga dan merawatnya

Pohon itu mati kesepian
Bunganya hilang terhempas angin
Pohon itu tak bertunas lagi
Lenyap bersama bayang-bayangku

Ku datangi tujuh muara
Ku mencari pohon teduh serupa
Ku cari pada sepanjang musim
Ku cari tapi tak ku temukan

TV liar

Pembohongan publik
Kotak itu hanya untuk kesenanganmu
Massa yg menyaksikan terkotak-kotak
Kotak itu hanya untuk uang

Kepalamu jadi botak terkikis niat buruk
Ilmu yang kau miliki suburkan ilalang liar
Hukum berlari sembunyi ketakutan
Kau pelihara kutu untuk gerogoti lawanmu

Wartamu alibi sesat
Presen gambarmu rekayasa
Report verbalmu liar
Jurnalisme hilang idealisme

Cinta dan harga diri

Aku berjalan seperti tanpa tujuan
Bahagia belum juga ku temukan

Cinta yang datang tak direstui
Pilihan hatiku menyulut petaka suku
Ego begitu kuat
Harga diri membius niat

Aku tertinggal waktu
Tenggelam dalam sepih 

Penyair liar

Tangan kanan genggam pena
Tinta nurut mengalir di kertas

Paku isi hati
Arahkan ke lidah para penjilat
Tuang jerit jiwa
Menyerang kawanan hitam  

Dengan pena ungkap yang benar
Balai pustaka takut bukukan adil

Aku penyair liar yang tersiar

Gerbang dan pagar rumah

Buka dulu gerbang rumahmu
Sesamamu ada di depan memanggil
Buka dulu pagar rumahmu
Mereka sedang mencarimu

Jangan berpura tak mendengar
Dengarkan sesamamu karena dia selalu menjawab setiap doamu

Jangan sengaja membuat pembatas
Biarkan mereka datang padamu karena cintanya padamu tak terbatas

Cara bertahan

Bukan lagi dua melainkan satu
Mereka satu tubuh

Dijaga dengan setia
Dikunci dengan sayang
Disirami dengan air mata
Dipagari dengan tulus

Hati damai
Jiwa tentram

Kokoh rumah bahagia
Bunga cinta mekar selamanya