Kamis, 13 November 2014

Bersyair

Aku sedang belajar bersyair
Biarkan yang beku mencair
Biarkan kata mengalir seperti air

Aku pemulung syair
Aku mencari di pasir
Aku mencari di air


Lelah raga berfikir
Kadang ingin menyingkir

Aku berhias petir
Menulis hidup yang getir dan anyir

Aku bukan pengecut seperti penyihir
Aku bukan pemain cinta yang mahir

Minggu, 19 Oktober 2014

Anak jalanan

Anak jalanan di antara hiruk pikuk kota
Musimnya bukan hujan.. bukan kemarau..

Ia melukis hidupnya dalam kolong jembatan pada setiap salib jalan

Kakinya telanjang dan tangannya meminta dengan sedikit malu

Anak jalanan terus berjalan

Kembali ke rumah

Bukan inginmu kau jajahkan koran di traffic light
Bukan niatmu kau jadi wanita penghibur di rumah merah

Karena terpaksa kau jadi pengemis di masjid
Karena tak ada yang peduli kau jadi pemulung dan makan dari tumpukan sampah


Kita di ajarkan meminta bukan memberi
Kita di ajarkan memakai bukan mencipta
Kita di ajarkan berbohong bukan jujur
Kita tidak menanam tapi menunggu di suap

Kembali ke rumah
Rumah adalah asal dan dasar

Sabtu, 18 Oktober 2014

Hidup

Api dan kayu memberi hidup
Air dan tanah membuat makanan

Hutan dan hujan membangun harapan
Cinta dan kasih pertemukan kita

Anak sungai

Anak sungai yg satu memanggil yg lainnya
Mereka bermain dengan deru air terjun
Mereka saling bersahutan dan berjalan menuju ke laut
Hutan dan pohon menjaga mereka bermain
Limbah dan sampah kemajuan datang mengganggu
Batu dan kayu peradaban di depan menghalangi
Pertengkaran pun tak terelakan
Hutan yang subur diperkosa dan tersiksa
Pohon bertekuk lutut dan tak bisa melerai pertengkaran
Anak-anak sungai itu akhirnya menjadi anak-anak yg kehilangan arah
Mereka merobohkan rumah kemajuan
Mereka meruntuhkan gedung peradaban
Mereka membunuh juga pemiliknya

Otak

coba ku atur lagi otakku
coba ku atur lagi mulutku
coba ku atur lagi tanganku
coba ku atur lagi kakiku

terlalu berat saat aku berpikir
terlalu besar saat aku berujar
terlalu keras saat aku berjabatan
terlalu tergesa-gesa saat aku menarik langkah

Aku ada untukmu

Aku tidak akan pergi meninggalkanmu
Aku masih disini.. aku masih ada..

Aku akan selalu bersamamu menatap langit biru 
Kepada hatiku setiap hari aku mengatakan ini..

Jumat, 17 Oktober 2014

Aku adonara

ini margaku
kami satu darah
bermula tubuh
berasal jiwa

ini rumahku
keluargaku
beratap kasih
berdasar cinta

ini desaku
kami terikat darah
berpegang tulus
berpijak benar

ini tanahku
tanah leluhurku
berpagar langit
berpatok bumi

Aku adonara 

Untuk maharani

Terima kasih maharaniku
Berpuluh tahun hidup bersamaku
Dalam suka, dalam duka
Dalam senang, dalam sedih


Terima kasih maharaniku
Berpuluh tahun menemani diriku
Melengkapiku, sempurnakanku
Menenangkanku, melegahkanku

Tetap jadi tangisku
Tetap jadi sabarku
Jangan pernah berubah cintamu padaku
Jangan pernah berubah cintamu untukku

Rabu, 08 Oktober 2014

Sarjana tani

Anakku tersayang..
Ayah dan ibu akan tiba di dermaga tanjung perak pukul 2 dini hari.

Tidurlah malam ini lebih awal ya nak. 
Bila kapal damping bersauh ayah akan menelponmu. 

Terimakasih ya nak..
Ibumu bahagia sekali, tidak sabar lagi melihatmu mengenakan toga itu.

Belum cukup berbakti

Ku tulis petuahmu dihatiku dengan cahaya tinta menyala
Agar jiwaku ini terang dari gelap


Maafkan aku adonara-indonesiaku
Aku masih belum cukup berbakti..

Hampa

Mulai kelam,..
Gerimis ragu jatuh
Bulan sembunyi takut
Sepih mendesak, Segala binasa, Hanya menanti


Malam buntu,..
Hampa mengigit, Angin bertuba
Ajal bertahta dan berkata “datanglah padaku, aku menantimu”

Perempuan sejati

Kekasihku apakah isi dadamu?
Sabarkah? Tangiskah?

Tatap matamu buat lidahku keluh
Langkah kakimu buatku salah langkah


Isi kantongku saja yang buatmu ramah merapat denganku
Lemari berbingkai emas dariku saja yang buatmu tersenyum padaku


Aku seperti lemak yang tak kau suka


Gelang emas dan cincin berbalut intan permata dariku saja yang buatmu mencium dan memegang erat tanganku
Sepatu kaca dariku saja yang buatmu bertekuk hormat padaku


Dirimu seperti lipstik, rekah sesaat..

Kekasihku,, kepadamu telah ku berikan semua yang terbaik..
Tapi bila saatnya tiba semua ini harus aku akhiri


Aku berkata kepadamu bahwa sederhana saja bila ingin jadi kekasihku
Tak perlu ini dan itu dan bila kau menampik maka pergilah, menghilang saja dariku, aku akan merasa lebih tenang


Jika ingin jadi kekasihku, jadilah sabar dan jadilah tangis. Itu yang aku mau..

Semangat kerja

Detak dinding memanggilku kembali
Tuhan berikan aku semangat. 
Aku tidak bersemangat hari ini.
Ingin tidur lagi tapi lapar
Ingin tidur lagi tapi tak lelap,
Kerja sudah menunggu.
Apakah yang harus aku lakukan??
Aku harus bersemangat mengumpulkan uang sebanyak2nya untuk orang2 tercinta


Aku bercerita kepadamu;
Semalam aku tidur dan bermimpi
Aku bermimpi bertemu sukses
Ia berdiri di sampingku dan menepuk pundakku
Ia menunjukan kepadaku peluang lewat lisan bibirnya
“bersemangatlah teman yang menentukan upah atau gajimu adalah dirimu sendiri,
Jangan tidur, bangun dan kejar mimpimu”.





Jelata

Aku bukanlah raja
Aku bukanlah penguasa

Aku hanyalah jelata;
Yang lapar di lumbung penuh padi
Yang miskin di dapur penuh emas
Yang bodoh dan di kuasai zaman


Para raja dan penguasa tutup mata
Ketika mereka membuka mata si lapar, si miskin, dan si bodoh telah menelanjangi mereka


Mereka semua berasal dari satu tangan
Raja dan penguasa terlihat jauh lebih buruk

Senin, 04 Agustus 2014

Antri sedekah santunan

Antrian panjang
Desak-desakan di pintu gerbang
Lima ribu orang lebih menunggu sedekah

Tangan terpanggil
Sungguh buatku gerimis
Hanya untuk makan sehari

Budi di antrian panjang
Jatuh di tengah desakan
Mati terinjak oleh massa yang lapar

Tak ada antrian
Santunan datang

Aku dan pohon

Pohon itu berikan aku ketenangan
Aku datang saat panas menyengat
Pohon itu berikan aku kesejukan
Aku tak menjaga dan merawatnya

Pohon itu mati kesepian
Bunganya hilang terhempas angin
Pohon itu tak bertunas lagi
Lenyap bersama bayang-bayangku

Ku datangi tujuh muara
Ku mencari pohon teduh serupa
Ku cari pada sepanjang musim
Ku cari tapi tak ku temukan

TV liar

Pembohongan publik
Kotak itu hanya untuk kesenanganmu
Massa yg menyaksikan terkotak-kotak
Kotak itu hanya untuk uang

Kepalamu jadi botak terkikis niat buruk
Ilmu yang kau miliki suburkan ilalang liar
Hukum berlari sembunyi ketakutan
Kau pelihara kutu untuk gerogoti lawanmu

Wartamu alibi sesat
Presen gambarmu rekayasa
Report verbalmu liar
Jurnalisme hilang idealisme

Cinta dan harga diri

Aku berjalan seperti tanpa tujuan
Bahagia belum juga ku temukan

Cinta yang datang tak direstui
Pilihan hatiku menyulut petaka suku
Ego begitu kuat
Harga diri membius niat

Aku tertinggal waktu
Tenggelam dalam sepih 

Penyair liar

Tangan kanan genggam pena
Tinta nurut mengalir di kertas

Paku isi hati
Arahkan ke lidah para penjilat
Tuang jerit jiwa
Menyerang kawanan hitam  

Dengan pena ungkap yang benar
Balai pustaka takut bukukan adil

Aku penyair liar yang tersiar

Gerbang dan pagar rumah

Buka dulu gerbang rumahmu
Sesamamu ada di depan memanggil
Buka dulu pagar rumahmu
Mereka sedang mencarimu

Jangan berpura tak mendengar
Dengarkan sesamamu karena dia selalu menjawab setiap doamu

Jangan sengaja membuat pembatas
Biarkan mereka datang padamu karena cintanya padamu tak terbatas

Cara bertahan

Bukan lagi dua melainkan satu
Mereka satu tubuh

Dijaga dengan setia
Dikunci dengan sayang
Disirami dengan air mata
Dipagari dengan tulus

Hati damai
Jiwa tentram

Kokoh rumah bahagia
Bunga cinta mekar selamanya

Rabu, 16 April 2014

Berjalan dengan kekasih

Kekasihku, datanglah padaku
Mari kita pergi melihat mawar yang sedang mekar

Kita akan berjalan menyusuri sungai
mengikuti derasnya air yang tertawa melukis kesepian
Aku akan selalu didekatmu memegang erat 
tangamu agar kau tak terantuk batu dan terjatuh

Kekasihku, janganlah engkau lelah
Tinggal setapak lagi kita akan 
menemukan mawar yang sedang mekar

Janganlah engkau lelah
Janganlah engkau letih..

Kekuatan mimpi

Angan2ku melayang-layang
Setinggi gunung sedalam lautan
Akan ku daki coba ku sebrangi
Sekuat2ku semampuku

Pernah ku terjatuh jauh di anganku
Ku temukan duka ku dapati luka
Ku coba hadapi-coba jalani
Sekuat2ku semampuku

Aku bertahan coba bertahan
Seperti bintang bagai sang surya
Ku taklukan gelap ku lawan hari
Sekuat2ku semampuku

Ingin kunyatakan mimpiku
Yakin bisa ku nyatakan mimpiku
Pasti bisa ku nyatakan mimpiku

Wahai tuhan sumber gembiraku
Mohon tuntun hambamu

Menunggu

Dia selalu menjaga setiap helai rambutnya
Dia selalu melindungi seluruh kulit tubuhnya
Hanya angin yang boleh membelainya
Hanya daun yang bisa menyentuhnya

Dalam darahnya mengalir cinta yang suci
Kukunya yang kotor di buang dibawa tempat tidurnya
Dia berbicara dengan air matanya
Dia bercerita dengan sabar di dadanya

Politik

Kamar buruh tani sangat jauh dengan istana penguasa
Meja kaum miskin sangat kecil untuk p
esta perjamuan raja

Mereka lalu berjalan menuju kotak rahasia demokrasi yang s
eharusnya disuarakan

Ada yang jujur mengikuti nurani   

Ada juga yang tidak jujur dan menjadi pelayan penguasa dan raja yang tamak 

Diseberang taman

Ada taman yg indah di seberang jalan
Muda-mudi yg kasmaran sedang berbagi
Sepasang keluarga berada di pojok taman
Paras mereka bahagia, canda tawa penuh cinta

Ada yg sedang sedih di seberang taman
Lelaki usia kepala lima duduk bersama kosong
Semu mengawang di pikiran

Lelaki usia kepala lima duduk bersama kosong
Berharap datang kembali masa2 indah
Seperti dalam taman di seberang jalan

Perkampungan dan perumahan

Perkampungan dan perumahan
Ada yang pernah mencari perbedaanya?

Pintu dan langit kita sama
Aku tak membawa apa-apa saat aku pulang


Aku hanya menemukan tentang bagaimana tangan yang 
memberikan dasar dan kaki yang memadukan tujuh titik sudut dan 
membentuk rangka kehidupan

Apa peganganku?
Apa pijak tumpuku?

Tentang kasih

Kadang cinta bisa membunuh
Kadang kasih mengharap kembali
Aku butuh kamu
Aku pilih kamu
Lakukanlah dengan sepenuh hati

Tentang kita

Mari dekat padaku jelitaku
Ceritakan tentang kita berdua saja jangan 
yang lainnya

Duduklah juga dengan mereka
Dengarkan mereka bicara
Renungkan saja
Jadilah pendengar yang baik

Marilah kekasihku

Kita belajar perihal keseimbangan

Kesetiaan

Duduk..
Kaulah sandaran hati, tumpu segala kurangku

Berdiri..
Aku ingin berjalan berdua saja denganmu dalam masa depan

Tidur..
Setiap aku bangun pada siang dan malam aku melihatmu disampingku

Mati..
Aku mencintaimu sampai aku tak kuat lagi duduk dan berdiri dan tidur untuk selamanya

Teman dan gitar

Teman, mainkan gitarmu
Rangkai kembali nada2 yg terpenggal
Teman, petik senar rindumu
Hingga nanti kita bersua


Biarkan jemarimu tetap menari
Aku bisa merasakannya


Kidungkan lagu tentang kita
Akupun sedang berpetik rindu


Sedang ku cari jejak jemarimu di gitar tua milikku

Perihal kebaikan

Pena sudah lama tak ku genggam
Aku lupa darimana tuk mulai melukis hidup

Buku-buku telah habis ku bakar
Aku kehilangan kunci tuk menggenggam dunia

Petuahmu tak lagi ku dengar
Aku sukar berbicara perihal kebaikan

Aku tertawa sendiri
Aku tak pernah mengalah

Aku adalah uang

berdua berjalan menuju ruang
sudut gelap penuh memeluk
tanpa busana terlentang
terkulai di kamar yang remang

rangka rumah diam terpaku
kuda-kuda sulit bernafas
bumbungan langit menjerit pilu

dipaksa, terpaksa, jadi terbiasa?
sudah terbiasa? entahlah,.

ada senyum cantik berhias getir
ada tawa manis tapi terasa anyir

Dinding mulai memudar
Ornamentasi hanya topeng
lantai di injak tanpa permisi

tanpa busana terlentang
terkulai di kamar yang remang
berdua saling berpeluk peluh
nikmat mendesah memecah ruang

Jumat, 14 Februari 2014

Wanita

Bibirnya yang indah merekah memberi kecupan padaku

Tangan kirinya melingkar lembut pada sayap pinggangku

Tangan kanannya berbelati merayap merobek jantung dan hatiku

Pemulung


Jarinya menari lincah diatas tumpukan sampah
Keringat hebat berlari dipundaknya
Diam tanpa suara ia berjalan menyusuri kehidupan

Gelap dan terang pilu menyaksikan
Ia terus mencari dan tak pernah menyerah
Sampai genggam menang di tangan

Betapa kejam dunianya
Ia bertumpuh hidup pada tumpukan sampah
Betapa kejam dunianya bernafas saja terasa begitu sulit

Bijaksana

Mata memandang sudut dengan luas
Mulut tak mengeluarkan kata bertuba
Tangan tak menyimpan picik di belakang
Kaki bergerak maju tak ragu-ragu

Supaya orang tak menyebut kita budak zaman