Jumat, 29 April 2016

Cinta yang ku pilih

Cintaku...

Bermata setia
Berbibir jujur berbudi
Bertangan berpegang teguh janji
Berkaki bertumpu tulus
Berjantung hati satu cinta
Berparuh jiwa satu tubuh selamanya

Abadi

Terang.. tenang bersamamu
Gelap.. lelap di pelukmu

Cinta tumbuh pada dua bibir mimpi
Mekar abadi dalam dua jiwa yang setia

Akulah tuhan

Temukan aku di dalam setiap rumah dengan saling menghormati dan menghargai penuh kasih
Temukan aku pada jiwa setiap manusia dengan berdoa serta bekerja penuh iman dan harapan

Kau tidak akan menemukan aku dengan membunuh sesamamu
Kau tidak akan menemukan aku dengan membunuh dirimu

Akulah yang membangun dan akulah yang berhak merobohkan rumahmu juga mengambil jiwamu

Akulah tuhan 

Aku ayahmu

Pakailah jaketku yang sederhana ini
Aku baru lima kali memakainya

Ku bawa serta cermin untukmu
Perhatikan tujuh titik sudut wajahmu

Lembut tingkah sambut petuah
Sudi laku
 budi terkenang

Aku ayahmu

Jumat, 15 Mei 2015

Cinta pandang pertama

Mungkinkah kau percaya
ungkapan cinta,
cinta pandang pertama

Mungkinkah kau mengerti
ku jatuh hati,
awal ku melihatmu


Aku mencintaimu,,
saat kau menatap mataku
Aku mencintaimu,,
saat kau tersenyum padaku

Aku mencintaimu,,
saat ku mendengar suaramu
Aku mencintaimu,,
saat ku memikirkanmu

Peringatan

trafic light
merah kuning hijau tanda larangan
hanya sedikit yg mengerti dan mentaati tanda larangan itu
ada gagak tua menunggu di ujung jalan
ada juga yg mengintai dari atas tiang lampu itu
setiap jam mereka menjemput tiga manusia yg bermain di jalan
sudah ada suara hidup kendaraan sebelum terbit fajar
saat siang datang, suara itu semakin keras dan mengacaukan pandangan
waktu dan emosi sering mengatur jalan yg dilalui manusia
ada yg sabar bersalaman ketika tersalib atau terserempet arah
ada juga yg menganggap jalan itu adalah milikknya sendiri
aku berada di atas roda hidup kendaraanku
aku tidak tahu kemana tempat yang akan di tuju manusia
aku selalu melihat ke depan dan sesekali aku menoleh ke kiri dan kanan
aku berada tepat di belakang garis putih, di bawa trafic light
gagak tua itu terbang sambil berkata; waktunya akan datang, kami menunggu, kami mengintai, dan kami akan menjemput semua manusia, dan kalian cukup mentaati tanda larangan itu

Tujuan

Hujan gerimis
Jalan terus
Tujuan menunggu
Terhambat bila terlambat
Basah kuyup sampai pucuk
Di kaki debu menempel
Mengalir air di tubuh tangan
Menetes di alis
Dingin jantung
Berdebar bergetar
Bibir gemetar
Beberapa langkah
Aku sampai

Senin, 20 April 2015

Kopi dan rokok

Kalian terlihat sangat buruk saat aku sedang sakit

Menjadi hitam di gua bercadar kelelawar-gelap menakutkan
Menjadi asap di cerobong pabrik kimia-tebal pekat mematikan

Mata merah melihatmu
Tangan kuning menyentuhmu
Bibir hitam layu memelukmu

Saudaraku jauh di pulau

hanya lewat telepon

jarak masih saja terentang
tangan sudah cukup lama tak bersalam

aku menulis rindu ini di sudut tanah lapang dusun,
di malam yang dingin dan sepih, ada bayangmu menari


aku melihat burung2 muda bernyanyi di kebun,
di pagi berkabut rendah, aku terngiang dirimu

saudaraku apa kabarmu

pulanglah di musim tanam ini, tinggallah beberapa hari disini
kita membersihkan rumput di kebun, menebas ranting2 pohon yang mengganggu,
membakar daun2 yang telah gugur, dan menyusun kembali batu dan kerikil yang berserak

kau boleh kembali setelah kebun kita bersih
kau boleh kembali untuk menantang hidup
kami menunggu kabarmu disini

hanya lewat telepon

Desa

Paya lolon
Ue tenunu 
Ikan sembe berome 
Suka sibo-muda piuk

Go dila limam

Kau duduk dan kau santap aku
Kau minum tuak. Kau terlihat kenyang hampir tak sadarkan diri

Lucunya, kau kemudian bercerita;
"Aku mencari ilmu dan mendapat banyak rezeki disana, aku lebih bahagia tinggal di sana"


Aku sedih mendengarnya, waktu yang berlalu, kau meninggikan kota dan merendahkan aku

Kamis, 26 Maret 2015

Laka Nele

"Laka Lewo Pulo Nele Lewo Lema"

Lamalaka sampai Harubala

1. Lamalaka
2. Lewo Kehek
3. Keliha
4. Paga
5. Boleng Meta
6. Lamanele
7. Harubala
8. Nobo
9. Gayak
10. Boleng

Keseimbangan

Banyak membaca agar bisa menulis
Tulus mendengar supaya menjadi pembicara yang baik

Belajar menghormati karena setiap orang ingin di hormati
Belajar menghargai sebab sama pentingnya dengan menghargai diri sendiri

Akan selalu ada keseimbangan

Sanggup kah engkau?

Kepadamu aku ceritakan kisah cintaku
Hanya kepadamu..

Aku tidak merendahkan cinta yang dulu dan  meninggikan cinta yang sekarang

Aku hanya minta supaya kamu selalu setia

Jangan pernah pergi dariku seperti dia yang pernah datang padaku

Kepadamu aku percaya..
Sanggup kah engkau melakukan ini?

Sudah selesai

Di sambut nyanyian lahirku
Dalam peluk ibu rupa sederhana

Bagai nyanyian aku dan hidupku
Di salib jalan lagu perjuangan

Tanganku mengikatku
Lidahku menikamku

Terurai harmoni mati tubuhku

Ku di bawa para malaikat
Ku di sambut mada puji surgawi

Ku di angkat dari alam kegelapan
Ku kembali ke rumah abadi jiwaku

Ku tinggalkan kebaikan tanganku
Ku tinggalkan kebenaran lidahku

Aku selesai
Sudah selesai 

Perihal kasur

Sayang..kasur sudah menipis kenapa pipis terus, kapan kasur ini akan diganti?

Jelitaku..memang sejak malam pertama kasur ini sudah menipis tapi tidak dengan cintaku, sudahlah jelitaku jangan bersedih marilah kita tidur..

Sayang..hati2 di jalan, semoga selamat sampai tujuan, lupakan soal kasur

Sayang..bekerjalah dengan cinta, aku tetap setia menunggu di kasur

Kamis, 13 November 2014

Bersyair

Aku sedang belajar bersyair
Biarkan yang beku mencair
Biarkan kata mengalir seperti air

Aku pemulung syair
Aku mencari di pasir
Aku mencari di air


Lelah raga berfikir
Kadang ingin menyingkir

Aku berhias petir
Menulis hidup yang getir dan anyir

Aku bukan pengecut seperti penyihir
Aku bukan pemain cinta yang mahir

Minggu, 19 Oktober 2014

Anak jalanan

Anak jalanan di antara hiruk pikuk kota
Musimnya bukan hujan.. bukan kemarau..

Ia melukis hidupnya dalam kolong jembatan pada setiap salib jalan

Kakinya telanjang dan tangannya meminta dengan sedikit malu

Anak jalanan terus berjalan

Kembali ke rumah

Bukan inginmu kau jajahkan koran di traffic light
Bukan niatmu kau jadi wanita penghibur di rumah merah

Karena terpaksa kau jadi pengemis di masjid
Karena tak ada yang peduli kau jadi pemulung dan makan dari tumpukan sampah


Kita di ajarkan meminta bukan memberi
Kita di ajarkan memakai bukan mencipta
Kita di ajarkan berbohong bukan jujur
Kita tidak menanam tapi menunggu di suap

Kembali ke rumah
Rumah adalah asal dan dasar

Sabtu, 18 Oktober 2014

Hidup

Api dan kayu memberi hidup
Air dan tanah membuat makanan

Hutan dan hujan membangun harapan
Cinta dan kasih pertemukan kita

Anak sungai

Anak sungai yg satu memanggil yg lainnya
Mereka bermain dengan deru air terjun
Mereka saling bersahutan dan berjalan menuju ke laut
Hutan dan pohon menjaga mereka bermain
Limbah dan sampah kemajuan datang mengganggu
Batu dan kayu peradaban di depan menghalangi
Pertengkaran pun tak terelakan
Hutan yang subur diperkosa dan tersiksa
Pohon bertekuk lutut dan tak bisa melerai pertengkaran
Anak-anak sungai itu akhirnya menjadi anak-anak yg kehilangan arah
Mereka merobohkan rumah kemajuan
Mereka meruntuhkan gedung peradaban
Mereka membunuh juga pemiliknya

Otak

coba ku atur lagi otakku
coba ku atur lagi mulutku
coba ku atur lagi tanganku
coba ku atur lagi kakiku

terlalu berat saat aku berpikir
terlalu besar saat aku berujar
terlalu keras saat aku berjabatan
terlalu tergesa-gesa saat aku menarik langkah

Aku ada untukmu

Aku tidak akan pergi meninggalkanmu
Aku masih disini.. aku masih ada..

Aku akan selalu bersamamu menatap langit biru 
Kepada hatiku setiap hari aku mengatakan ini..