Bermula dari
tuak-arak yang berarak masuk menyentuh basah lidah.
Sesekali memaksa mengikat mata, lewati tenggorokan membentuk kerut di kening, menuju
lambung jantung, membakar bait allah.
Bermual asap dari tangan ke mulut, mulut ke tangan, dan menyentuh layu bibir.
Kembang kempis hidung melukis asap tak menentu lepas terbawa angin malam, separuh menuju lambung paru dan membakar bait allah.
Kala kaki bergetar dan tak padat lagi bercumbu dengan tanah.
Kala tangan meratap merayap meraba mencari keseimbangan, langitku hilang.
Di dalam keramaian, di antara pesta ria, di sela2 kepak sayap sepasang merpati putih,
aku bahagia, aku letih, aku lemah, dan bersama kosong aku menuju kamar gelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar